Tadi...... Hujan turun sangat deras
aq dan seorang teman mengurungkan diri untuk pulang dari sebuah mall.
kami pun mencari tempat istirahat sembari menunggu hujan reda.
Namun, hujan tak kunjung reda sampai sekitar pukul 20.00
Di pintu mall banyak orang berteduh, mungkin mereka menunggu hujan reda untuk pulang.
Aku melihat ke arah beberapa anak sedang menawarkan payung kepada orang-orang
melihat mereka basah kuyup dan kedinginan, miris rasanya.
biasanya anak seusia mereka akan ada di samping ayah dan ibu saat hujan seperti ini, berselimut untuk mencari kehangatan, tidak untuk mereka.
tak bisa ku bayangkan, seperti apa dinginnya berhujan-hujanan seperti itu. aku saja yang memakai payung tak tahan dingin ( dulu sich tahan dingin, sekarang mah gampang sakit aq-nya )
temanku memutuskan untuk memakai jasa ojek payung tersebut.
iseng aku bertanya beberapa hal pada anak itu.
Aku terharu plus sedih, ternyata anak itu masih duduk di bangku kls 6 SD. Seorang yatim dengan Ibu penjual gorengan dan Ayah tiri kuli bangunan dan seorang adik tiri. Saat-saat hujan seperti ini ia manfaatkan menjadi ojek payung untuk mencari penghasilan. dengan imbalan seikhlasnya ia cukup senang. Padahal hari senin besok UAS, dia lebih memilih menjadi ojek payung daripada harus belajar untuk ulangan, dia bilang dia akan belajar setelah hujan reda. saat ku tanya berapa penghasilannya sebagai ojek payung, ia menjawab
"kalau hujannya mulai jam 3 sore bisa dapat banyak, sampai delapan puluh ribu."
Hujan deras ia akan senang, karena ia akan dapat banyak rejeki. padahal manusia sering mengeluh dengan hujan yang sangat deras (termasuk aku).
yang membuat ku lebih terharu lagi saat aku bertanya kemana dia akan melanjutkan setelah lulus SD.
Ia menjawab kalau tadinya Ibunya akan memasukkannya ke Pondok Pesantren namun berubah pikiran dan akan memasukkannya ke SMP Negeri, dia juga ingin masuk SMK.
Bukannya aku tak setuju dia masuk SMPN, namun alasan dibalik tak jadi ke Pondok Pesantren lah yang membuatku sedih, biaya yang besar tentu saja jadi pertimbangan.
Andai saja Dana Pendidikan Gratis juga masuk Pesantren, pastilah anak seperti dia tak perlu memikirkan biaya yang besar untuk menimba ilmu agama yang lebih banyak dari pesantren.
Itu masih cerita dari satu anak saja, kurasa masih banyak anak-anak lain di Indonesia yang sama atau bahkan lebih tidak beruntung daripadanya.
aku juga teringat tadi juga ada seorang gadis kecil yang duduk dilantai, dia hanya memandang orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya. di tasnya kulihat setumpuk koran masih belum laku terjual, sedih melihatnya.
Beberapa bulan yang lalu pun aku juga bertemu dengan seorang anak kelas 3 penjual koran yang harus membantu ibunya yang penjual sayur di sebuah pasar. dia tidak pernah berpikir tentang belajar. bagaimana bisa? tentu saja. karena sepulang sekolah bukan buku yang ia pegang, melainkan koran. Ia akan pulang saat malam hari, dan akan bangun pukul 3 pagi untuk membantu ibunya ke pasar dan mengambil koran.
Pernah juga kutemukan seorang siswa kelas 6 yang seharusnya belajar untuk menghadapi ujian nasional, namun kenyataannya, dia memilih menjual koran padahal Ujian Nasional kurang seminggu lagi.
Hufth....entahlah.......tak tega rasanya melihat apa yang terjadi dengan mereka..........
Malu rasanya saat ingat kalau Um suka malas-malasan saat sekolah atau kuliah..... hehehehe........
Rabbi.......Engkau pemilik segala apa yang ada di dunia ini......... Um titip doa tuk mereka.......
Semoga mereka bisa mendapat kehidupan yang terbaik dan menggapai ridho-Mu........... Amiiinnn (Hiks....Hiks.....Um jadi menitikkan air mata.......)
keren.....
BalasHapusAjarin dOnk'z Carae Gunakan BLOG ini.......
Lain Waktu punYa Qw akan terbit mbak.....!
tak pOst BOLeh kaH......???