Halaman


Rabu, 28 Desember 2011

5 Kawan

Aku punya Empat orang teman, sebutannya Uci', Banyu, Tante, Ba'po...........mereka punya kelebihan dan kekurangan masing-masing............
di Skul biasanya kami sering bersama, namun tak dipungkiri kami juga kadang bersama teman2 kami yang lain. semua tak ada yang protes, saling menghormati kunci utamanya. dan mengenang masa-masa itu.......Indah.........

Uci'.......... kupikir dia orang chinese, eh, ternyata jawa. mutasi ke surabaya setelah lulus smp. anaknya manjaaaaa banget....... bsa dibilang cengeng jg ce....hehehehe...( g boleh protes...emang bener koq...). Dia teman sebangku ku, awalnya aku duduk sendiri, dan dia duduk sendiri jg. terbesit dalam hati tuk bisa duduk di bangku kosong sampingnya cz gak enak sendirian, pas dia noleh, eh diajak gabung. So, punya teman sebangku deh...... masalh pelajaran eksak... dia jago lho..... bisa dibilang aku paling deket sama dia dripda yg lain. O,iya, dia itu gak suka sama kue basah gtu........ sukanya kue kering....... so, klo' Ba'po msak kue basah........pasti deh jatahnya ummu yg embat.......... hahahahaa....... skrg dia udah nikah.............. Mg cepet jadi Mami ya Ci'.......

Banyu............ si Hitam Manis yang suka basket ini jawa banget............... bahasa jawa krama-nya......... waduuuuuhhhh......... mantap........... klo ada yang ngomong krama jawa, pasti deh banyu yang di jadikan translater ma yang laen........hehehhehe............... skrg Banyu udah lulus kuliah...... dan siap tuk kerja............ semangat Yu...........

Tante............. Nah, ini nih yg ngasih julukan buat tmn2nya...... cerewet, lucu, girly........... tpi kdang rsuka gak mudeng.......... klo dah gitu yg laen pasti dongkol ma sikapnya.......... hehehehhe
suka bgt sama warna pink.... manja jg..... maklum anak cewek satu2nya dri 2 bsodara........... msh ngerjakan skripsi ni cewek...... Semangat tante....

Ba'po.............. Ni cewek paling tinggi diantara kami, suka olahraga jg.... anggota Paskib........ pinter masak........ keluarga koki siiihhhhh........ pernah dia buatin pizza bikinan dewe........krna uci' gak suka uum deh ketiban rejekinya............pas Valdays dia jg bikinin coklat buat kita2......dia jg kemaruk sama bahasa2..... Inggris, perancis, trus apa ya...... pokoknya ni cwe' sneng bgt blajar bahasa......... cm dia aja yg tinggal di luar kota diantara kami berlima........... miss u Ka....

Dan Aku.......... Munik........... itu tante yg ngasih sebutan......waktu kutanya kenapa gtu.... ktnya singkatan dri kata terakhir nama ku umMu haNik... jadinya MUNIK......... aku ce cm bisa gleng2 kpala aja ma sebutan itu........

huuuuuuu.......... Guys.....Miss U So Much.............

Jumat, 23 Desember 2011

Sehati tak Sebahasa ( Duet 2 Rasa )

kau bersajak melalui hatimu.....
dan aku pun mendengar dengan kalbuku.....
Ungkapan rasa yang kelam dalam hidup kita....
hampir serupa namun beda masa.....
kau dengan perasaanmu......
dan aku dengan perasaanku.....
bercengkrama bagai nyanyian burung bersahutan.....
berharap tuk saling mencurahkan yg kita rasakan....
mngkn orang bilang ini berlebihan...
tapi dari kata lebih itulah bisa menjadi kesempurna'an.....
kicauan hati bagai alunan musik.....
yang terbiasa diengar oleh kebanyakan orang.....namun tak semuanya bisa merasakan seperti apa yang kita rasakan....

 ***_____***

Malam ini kutuangkan rasaku dalam catatan maya. Melepas gundah yang ada.
Ku share pada seorang sahabat yang serasa.
Mungkin orang lain tak bisa mengerti, tapi ia mengerti.
Cukup kutuangkan rasa ku, beralih ku pada rasanya.
Speechless, melihat indahnya kekuatan kata, kami bertukar rasa.
Banyak makna dalam berbagi, canda, tawa, juga lara.
Kami punya rasa yang sama, walau beda tutur bahasa.


by : Cerita Cinta AnjaL'z with Umik Khoyyaty






Kamis, 22 Desember 2011

Sekelumit Pinta dari Sahaya

Rabbi............
Tetapkan hatiku agar aku tak takut kehilangan
Kehilangan apa pun yang aku miliki
Rabbi............
Aku tak pernah ingin ia kembali
Karna bukan hakku tuk memintanya
Rabbi...........
Jauhkan aku darinya
Karna bukan hakku tuk dekat dengannya
Rabbi...........
Semakin dia di dekatku
Semakin sakit yang kurasa
Bukan ku putus tali silaturahim-Mu
Namun, itu yang terbaik kurasa
Walau entah apakah baik disisi-Mu

Catatan at Padusan, Pacet (Bag.1)

Minggu, 18 Desember 2011
Hari ini aq seneng banget, bisa kembali ke Pacet setelah beberapa tahun tak berkunjung ke sana.
Menemani anak2 pramuka membuatku teringat saat SMP kemah disitu. "Kaya' apa ya pacet sekarang?" batinku.
Setelah diberi pengarahan........sekitar pukul 08.00 kami berangkat dengan 2 mobil disang. aku bersama anak2 putra dan beberapa guru yg mendampingi. di tengah perjalanan kami menyanyikan lagu2 pramuka tuk menambah semangat plus mencegah mabuk ( gak percaya??? coba aja!!!). setelah melewati beberapa tempat, saatnya melewati sungai brantas.
Jembatan pertama, aku menyebutnya. dulu, kalau aku mau ke rumah kakek-ku yg di pacet. cara mengetahui mau nyampe' ya jembatan brantas ini. klo udah lewat jembatan ini berarti tinggal satu jembatan kecil, setelah itu disambut gerbang kawasan wisata Pacet deh ( itu lho kaya' gerbang kawasan wisata sunan Ampel.
Sampai di daerah pacet, suasana pedesaan mulai terasa.......... anak2 yg biasanya hanya melihat bangunan gedung bertingkat takjub melihat pemandangan disekitarnya, hijau euy.....
"ini belum seberapa, lihat aja nanti kalo' udah nyampe'? lebih bagus." ujarku.


"Jembatan Pertama" di atas sungai Brantas






  
Rombongan kami sampai di tempat parkir sekitar pukul sepuluh, rasa capek sudah tak terasa saat melihat warna hijau dimana2..... udara dingin juga sudah mulai terasa.
Saatnya anak2 berbaris sebelum menuju Padusan. setelah itu....... waktunya......
naik..........naik.......... bukan ke puncak gunung lho.......... klo' mau ke padusan kan jalannya nanjak....



Waktu naik, wuuuiiiiihhhh........pemandangannya............ Subhanallah.........


Nyampe' di lokasi.... Subhanallah....... um nyampe' sini lagi....jadi terharu....... Hutan pinus, udara segar, gemericik air sungai, dimana-mana tanaman dan pohon yang rindang........ jadi kangen teman2 SMP yang dulu pernah ikut perkemahan di sini.










Saatnya makan siang......... belum lama menggelar tikar......... eh.... hujan turun lebat banget. So, semuanya langsung menuju bangunan berbentuk pendopo yang ada di dekat lokasi.
anak2 kembali meneruskan makan siang mereka, ditemani air hujan yang menerobos masuk melalui celah genteng pendopo.... alias bocor.... hehehe...
karena ini pengalaman pertama mereka makan dengan suasana tidak nyaman seperti itu, banyak yang mengeluh. Kakak pembina dan guru pendamping menerangkan kepada mereka beginilah hidup, kadang menghadapi suasana enak dan tidak enak. Nikmati dan bersyukur atas apa yang ada.
aku pun juga menambahkan kalau apa yang mereka alami tak separah waktu pengalaman berkemah di sini beberapa tahun yang lalu. So, anak2 bersemangat kembali....


melepas lelah selama perjalanan




suasana makan ditemani hujan
 
 
Bersambung ke Catatan at Padusan, Pacet (Bag.2).............................


Sabtu, 17 Desember 2011

Ku benci hadirmu

Saat aku berkutat dengan lautan kertas dan angka
muncul namanya
membuat ku merasa tuk benci melihatnya
tak ingin ku bertemu dia
namun, hatiku sakit
melihatnya, mengingatnya
aku benci rasa ini datang
sudah cukup ku rasa
mengapa kau tak bisa enyah dari hatiku
mengapa kau tak pernah bisa hilang dari ingatan ku
aku tak bahagia kau ada
ku benci hadirmu

Minggu, 11 Desember 2011

CATATAN HUJAN

Tadi...... Hujan turun sangat deras
aq dan seorang teman mengurungkan diri untuk pulang dari sebuah mall.
kami pun mencari tempat istirahat sembari menunggu hujan reda.
Namun, hujan tak kunjung reda sampai sekitar pukul 20.00
Di pintu mall banyak orang berteduh, mungkin mereka menunggu hujan reda untuk pulang.
Aku melihat ke arah beberapa anak sedang menawarkan payung kepada orang-orang
melihat mereka basah kuyup dan kedinginan, miris rasanya.
biasanya anak seusia mereka akan ada di samping ayah dan ibu saat hujan seperti ini, berselimut untuk mencari kehangatan, tidak untuk mereka.
tak bisa ku bayangkan, seperti apa dinginnya berhujan-hujanan seperti itu. aku saja yang memakai payung tak tahan dingin ( dulu sich tahan dingin, sekarang mah gampang sakit aq-nya )
temanku memutuskan untuk memakai jasa ojek payung tersebut.
iseng aku bertanya beberapa hal pada anak itu.
Aku terharu plus sedih, ternyata anak itu masih duduk di bangku kls 6 SD. Seorang yatim dengan Ibu penjual gorengan dan Ayah tiri kuli bangunan dan seorang adik tiri. Saat-saat hujan seperti ini ia manfaatkan menjadi ojek payung untuk mencari penghasilan. dengan imbalan seikhlasnya ia cukup senang. Padahal hari senin besok UAS, dia lebih memilih menjadi ojek payung daripada harus belajar untuk ulangan, dia bilang dia akan belajar setelah hujan reda. saat ku tanya berapa penghasilannya sebagai ojek payung, ia menjawab
"kalau hujannya mulai jam 3 sore bisa dapat banyak, sampai delapan puluh ribu."
Hujan deras ia akan senang, karena ia akan dapat banyak rejeki. padahal manusia sering mengeluh dengan hujan yang sangat deras (termasuk aku).
yang membuat ku lebih terharu lagi saat aku bertanya kemana dia akan melanjutkan setelah lulus SD.
Ia menjawab kalau tadinya Ibunya akan memasukkannya ke Pondok Pesantren namun berubah pikiran dan akan memasukkannya ke SMP Negeri, dia juga ingin masuk SMK.
Bukannya aku tak setuju dia masuk SMPN, namun alasan dibalik tak jadi ke Pondok Pesantren lah yang membuatku sedih, biaya yang besar tentu saja jadi pertimbangan.
Andai saja Dana Pendidikan Gratis juga masuk Pesantren, pastilah anak seperti dia tak perlu memikirkan biaya yang besar untuk menimba ilmu agama yang lebih banyak dari pesantren.
Itu masih cerita dari satu anak saja, kurasa masih banyak anak-anak lain di Indonesia yang sama atau bahkan lebih tidak beruntung daripadanya.
aku juga teringat tadi juga ada seorang gadis kecil yang duduk dilantai, dia hanya memandang orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya. di tasnya kulihat setumpuk koran masih belum laku terjual, sedih melihatnya.
Beberapa bulan yang lalu pun aku juga bertemu dengan seorang anak kelas 3 penjual koran yang harus membantu ibunya yang penjual sayur di sebuah pasar. dia tidak pernah berpikir tentang belajar. bagaimana bisa? tentu saja. karena sepulang sekolah bukan buku yang ia pegang, melainkan koran. Ia akan pulang saat malam hari, dan akan bangun pukul 3 pagi untuk membantu ibunya ke pasar dan mengambil koran.
Pernah juga kutemukan seorang siswa kelas 6 yang seharusnya belajar untuk menghadapi ujian nasional, namun kenyataannya, dia memilih menjual koran padahal Ujian Nasional kurang seminggu lagi.
Hufth....entahlah.......tak tega rasanya melihat apa yang terjadi dengan mereka..........
Malu rasanya saat ingat kalau Um suka malas-malasan saat sekolah atau kuliah..... hehehehe........
Rabbi.......Engkau pemilik segala apa yang ada di dunia ini......... Um titip doa tuk mereka.......
Semoga mereka bisa mendapat kehidupan yang terbaik dan menggapai ridho-Mu........... Amiiinnn (Hiks....Hiks.....Um jadi menitikkan air mata.......)

Jumat, 18 November 2011

curhat q

Apakah cinta membuat orang terikat dan melupakan kodratnya sebagai makhluk sosial yang harus bersosialisasi dengan orang lain????
Apakah cinta membuat orang tidak sadar bahwa ia tidak hanya hidup berdua di dunia yang penuh dengan makhluk-Nya????
Jika Iya, aku tidak ingin memiliki cinta yang seperti itu.
Aku ingin punya cinta yang universal, tau mana yang hak dan mana kewajiban.
Dimana saling mengerti bukan hanya sekedar kata.
Aku ingin punya cinta yang tau dari mana ia berasal dan kemana ia kembali kelak.
bukan cinta yang harus slalu ada dimanapun dan kapanpun ia ada, mengikatku dalam jeratnya, dan tak tau bahwa..........................
manusia kan kembali ke hadirat-Nya

Kamis, 17 November 2011

lumpia pisang ala ummu

um tu suka banget memanfaatkan bahan2 makanan yg ada di rumah......
so....... resep yg dibikin gak ribet koq.

bahan :
- Pisang ( berbagai jenis  pisang bisa dipakai )
- Kulit Lumpia (ukuran sedang )
- Keju
- coklat cair ( bisa di ganti meses atau susu coklat cair )
- Putih Telur / Air ( untuk perekat )
- minyak goreng

Cara Buat :
siapkan selembar kulit lumpia, masukkan pisang yg sudah dipotong-potong, keju (bisa dipotong kotak2 atau diparut ), coklat cair (dapat diganti meses atau susu cair ), padatkan, gulung seperti gulungan lumpia biasa, rekatkan dengan putih telur atau air.
Ulangi dengan lembar lumpia berikutnya.
goreng lumpia sampai kecoklatan, setelah matang, tiriskan.
hiasi dengan coklat cair atau meses diatasnya.
lumpia pisang siap dimakan...........
selamat mencoba....!!!!!!!

CERPEN Q (1) : SYAL TUK YANG TERSAYANG



Jam dinding di kelas sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh, saatnya istirahat. Seiring bel berdentang tiga kali, semua siswa keluar dari kelas masing-masing. Ada yang langsung ke kantin, ke kamar mandi, ke perpustakaan, atau langsung ke lapangan untuk bermain sepak bola atau basket.
Di kelas X-3 SMA Merpati, Ana dan temannya Lina keluar dari kelas menuju ke kantin. Biasanya Yana bersama mereka, namun kali ini Yana hanya menitipkan sandwich ayam pada kedua temannya itu, ketika ditanya dia menjawab kalau dia masih ada urusan.
“Tumben ya Lin, Yana bersikap aneh kaya’ gitu?” Tanya Ana curiga saat menunggu baksonya di sebuah sudut kantin.
“Aneh gimana An?” Lina balik  bertanya.
“Ya  aneh aja, biasanya kan kalau istirahat dia ke kantin, nah udah beberapa minggu ini dia nitip ke kita.” Ana mencoba menganalisa sikap Yana. “Istirahat kedua juga dia sering ngilang gitu aja. Waktu ditanya ada aja alasannya.” Lanjut Ana
“Iya juga sich, tapi Yana juga gak bilang apa-apa tuh. Kapan hari juga waktu aku tegur dia juga jawab gak ada apa-apa.” Tukas Lina. Pembicaraan tentang Yana pun berakhir saat pesanan mereka datang.
Ananda Firdausia, Yana Fatmasari dan Lina Permata Dewi adalah siswa kelas X-3 SMA Merpati, mereka bertiga merupakan satu anggota saat MOS dulu, kebetulan mereka sama-sama duduk di kelas X-3 akhirnya seiring berjalannya waktu, hubungan mereka kian akrab. Masing-masing saling menyayangi satu sama lain, jika ada masalah diantara mereka selalu diselesaikan bersama-sama. Mereka selalu siap memberikan bantuan jika yang lain sedang membutuhkan. Perbedaan karakter antara mereka bertiga menghasilkan sebuah persahabatan yang unik dan indah. Ana, cewe’ sawo matang, yang selalu serius namun sabar, berjilbab dan jago bela diri. Yana, cewek hitam manis, humoris yang merupakan anggota paskibra sekolah dan Lina yang mempunyai kulit kuning, feminim dan modis tapi jago basket. Semua karakter tersebut saling melengkapi.
Setelah makan di kantin, Ana mengajak Lina untuk mencari Yana. Mereka mencari ke semua tempat yang biasa mereka datangi saat istirahat. Gazebo sekolah, perpustakaan, taman depan ruang guru, hasilnya nihil. Yana tak ada di tiga tempat itu. Ana melirik arlojinya, sepuluh menit lagi jam istrahat selesai. Biasanya Yana akan kembali ke kelas lima menit sebelum bel masuk berbunyi, oleh karena itu Ana harus menemukannya sebelum Yana  kembali dan mengetahui kenapa sekarang Yana menghindar dari mereka berdua.
Taman belakang sekolah, satu tempat yang belum didatangi, tepat di bawah pohon beringin pinggir kolam buatan, Yana duduk disitu sambil mengerjakan sesuatu. Ana yang melihatnya langsung saja menghampirinya dengan langkah pelan.
“Woi……….” Ana dan Lina mengagetkan Yana yang ternyata sedang asyik merajut sesuatu.
“Ya ampun, kalian berdua bikin aku kaget aja.” Ujar Yana sambil memegang dadanya kaget.
“Kamu tuh dicari kemana-mana, ternyata disini toh tempat semedimu.” Kata Ana.
Yana hanya tersenyum simpul melihat Ana yang manyun kesal.
“Iya nih, gak tau apa kita sampe’ pegel nyari, eh ternyata lagi enak-enakan di deket kolam.” Ujar Lina.
“Lagi ngapain sich? Eh, itu apa?” tanya Ana penasaran melihat barang-barang yang berhubungan dengan rajut-merajut di samping Yana.
“Yah, ketahuan dech.” Tukas Yana membuat Ana dan Lina berpandangan tak mengerti.
“Seperti yang kalian lihat, aku lagi ngerajut.” Lanjut Yana
“Ngerajut?ngerajut apa?” tanya Lina penasaran sambil mengutak-atik perlengkapan rajut Yana.
“Syal.” Jawab Yana singkat
“Syal?” kata Ana dan Lina bersamaan.
“untuk apa?dijual?” giliran Ana yang penasaran. Yana menggeleng, “Buat kak Radit.” Jawabnya dengan senyum mengembang.
“What? Kak Radit. Gak salah Yan?” tukas Ana
“Enggak. Ini bener buat kak Radit koq.” Yana menunjukkan syal rajutan benang hitam putih setengah jadinya pada Ana. “Ntar dech aku jelasin. Sekarang mana sandwich-ku. Laper nich.” Pinta Yana sambil menunjuk perutnya. Ana pun memberikan sandwich dan air mineral pesanan Yana, setelah itu mereka meninggalkan taman menuju ke kelas karena bel masuk sudah berbunyi.
            Sindrom Fans Senior (SFS), begitu Ana menyebut hal yang terjadi pada Yana sekarang. Sejak masuk anggota Paskibra dan mengenal yang namanya Radit, ketua Paskibra siswa kelas XII IPA 5. Hari-hari Yana selalu dipenuhi oleh Radit. Dia akan histeris kegirangan saat berpapasan dengan Radit atau Radit lewat di hadapannya, padahal Radit bersikap biasa-biasa saja bahkan cuek.. Ana sudah berkali-kali mengingatkan Yana dengan sindrom tersebut, bukannya Ana tidak ingin temannya senang. Namun melihat sikap Radit yang cuek pada Ana serta reputasi Radit sebagai cowok populer di SMA Merpati yang kemana-mana selalu didampingi cewek-cewek cantik dan populer juga, membuat Ana harus menyadarkan Yana sebelum sakit hati ditolak oleh Radit. Namun yang namanya orang lagi kasmaran, tak ada yang bisa mengganggu, Yana sudah kesengsem dengan Radit yang tinggi, putih, tampan, atletis, pintar, jago basket, Ketua Paskibra, anggota OSIS pula. Bukannya Ana munafik, dia tidak memungkiri keunggulan Radit, namun keunggulan itu dikembalikan lagi pada Sang Pencipta yang menciptakan Radit dengan segala kelebihannya, hanya itu, selebihnya biasa saja.
            Suatu ketika, saat istirahat kedua, Ana dan Yana duduk-duduk di tepi kolam taman belakang sekolah. Saat itu Lina sedang tidak masuk karena izin ada acara keluarga, tinggallah mereka berdua saja sekarang. Yana sibuk dengan rajutannya sementara Ana sibuk dengan novel di tangannya. Tiba-tiba saja Ana merasa terusik dengan kegiatan Yana, akhirnya Ana menghentikan kegiatan membaca novelnya.
“Kamu beneran Yan, mau ngasih syal itu ke kak Radit?” tanya Ana, Yana mengangguk mantap. “Trus kapan ngasihnya? Bentar lagi kan kelas tiga Ujian Nasional.”
Yana berhenti menyulam dan memandang wajah Ana lekat-lekat. “Aku akan ngasih ini di acara malam dana sebelum UN.”
“Kamu nekat ya. Kalau ditolak gimana?”
“Ya, berdoa aja biar kak Radit gak nolak.”
“Bukannya kak Radit udah punya cewek. Gak takut dilabrak?”
Yana menggeleng, “Kak Mila maksudmu?” tanyanya, Ana mengangguk. “Udah putus koq.” Jawab Yana yakin.
“Tapi kan masih banyak yang ngincer kak Radit. Sainganmu banyak lho Yan.” Ujar Ana.
“Ana sayang. Jangan khawatir, aku gak peduli kak Radit nolak atau nerima aku. Yang penting akau udah bertekad bakal ngasih syal ini padanya dan mengatakan cintaku padanya.”
“Sekarang kan lagi musim kemarau Yan, panas tau kalo’ pakai syal.”
“Kan bisa dipakai kalau waktu hujan. Lagian cuaca sekarang gak menentu.”
Ana terlihat gemas dengan ucapan Yana yang sangat percaya diri itu, Ana tidak ingin temannya sakit hati cuma gara-gara cowok yang gak jelas suka atau tidak pada temannya.
“Tau gak Yan?”
“Apa?”
“Syal buatan kamu bagus. Daripada dikasih ke kak Radit mending dikasih ke aku atau Lina aja.” Ucap Ana yang kemudian melanjutkan membaca novelnya, sementara Yana memandang lekat pada teman yang disayanginya itu kemudian kembali melanjutkan merajut.
            Hari berganti hari, tak terasa Ujian Nasional kelas XII semakin dekat. SMA Merpati sedang sibuk menyiapkan malam dana, acara tahunan sebelum kelas XII ujian nasional. Di malam ini, akan ditampilkan berbagai kreativitas siswa, mulai dari siswa kelas X sampai kelas XII. Menyanyi, Menari, Lawak, dan kreatifitas apapun dikenakan biaya pendaftaran yang nantinya akan disalurkan kepada orang-orang yang tidak mampu di sekitar sekolah. Tidak hanya yang menampilkan acara, namun juga penonton , guru dan para staf juga diwajibkan untuk menyumbang seikhlas mereka. Acara yang ditunggu-tunggu Yana ini akan dilangsungkan minggu depan. Syal buatannya pun sudah jadi, tinggal dibungkus kertas kado. Yana pun tak sabar menanti datangnya hari itu.
            Tiga hari sebelum acara malam dana, saat  istirahat Ana dan Lina dikejutkan dengan Yana yang tiba-tiba masuk ke kelas kemudian memeluk Ana sambil menagis sesenggukan. Ana dan Lina sampai bingung dan bertanya-tanya apa yang telah terjadi pada temannya itu. Namun Ana membiarkan saja Yana menangis dipelukannya. Beberapa teman yang melihat mereka bertnya-tanya, Lina menjawab bahwa tidak ada apa-apa dengan Yana. Beberapa saat kemudian, Yana berhenti menangis.
“Kamu kenapa Yan?” tanya Ana.
“Aku….aku…..” Yana bicara dengan terbata-bata.
Ana mengisyaratkan Lina untuk mengambil air mineral di laci bangkunya, Lina menyerahkan air mineral itu pada Yana yang langsung meneguknya.
“Aku……. Kak Dina…” kata Yana kemudian terdiam.
“Kak Dina? Kak Dina kelas XII IPA 3?” tanya Lina, Yana mengangguk. “Emang kenapa sama kak Dina?” lanjut Lina penasaran.
“Waktu aku di taman lagi ngerajut, tiba-tiba dia datang dan………” Yana memutus ucapannya, sementara Ana dan Lina menunggu tak sabar. Yana memandangi dua temannya. “Melabrakku.” Tukas Yana pelan.
“Melabrakmu? Koq bisa?” tanya Lina sedikit emosi.
“Pasti soal kak Radit.” Ucap Ana tenang, Yana mengangguk. “Sudah kuduga hal kaya’ gini bakal terjadi.” Lanjut Ana.
“Aku gak ada masalah kalau dia suka sama kak Radit, tapi yang bikin aku sedih tuh waktu dia bilang aku cewek gak tau diri, cewek jelek dan gak pantes buat kak Radit.  Aku gak selevel kalau bersaing dengannya. Yang aku bikin sakit hati lagi saat dia menyebut kita gak pantes ada di sekolah ini. Kalau hanya aku yang dihina tak ada masalah, tapi dia menghina kalian, aku tidak terima. Kalian kan tidak ada sangkut pautnya dengan kak Radit.”  Yana bercerita dengan mata berkaca-kaca.
“Apa? Dia bilang gitu? Kurang ajar banget. Dia pikir dia cantik apa? Cewek bawel, jutek, sombong kaya’ dia tuh yang seharusnya gak sekolah disini. Lagian juga dia gak pinter-pinter amat. Mentang-mentang dia keponakan kepala sekolah, terus dia seenaknya aja bilang gitu. Huh…..” ucap Lina dengan penuh kemarahan. “Dia tuh yang gak pantes jadi pacar kak Radit. Dasar nenek sihir.” Lanjutnya. Sementara Yana dan Ana hanya melongo melihat Lina yang ngomel sendiri. Beberapa siswa yang ada di kelas itu pun heran dengan kelakuan Lina, tapi Lina tetap saja ngomel tak karuan, Ana dan Yana hanya bisa geleng-geleng kepala melihat ulah temannya itu.
            Malam yang dinanti telah tiba, malam dana yang diselenggarakan SMA Merpati riuh ramai dengan sorakan penonton yang menyaksikan aksi kreativitas para siswa. Selain pergelaran unjuk kreativitas, juga ada bazar yang sebagian hasilnya disumbangkan. Yana dengan gaun malam putihnya terlihat manis, sementara Lina dengan gaun hitamnya terlihat sangat cantik. Sayangnya Ana tidak bisa ikut karena sedang sakit. Pertandingan pencak silat yang kemarin dihadapinya menguras tenaganya sampai Ana harus pulih dan kembali ke sekolah dengan fit.
Deuh, yg lgi sng mo blg cinta. Goda Ana lewat sms ke Yana, yang menerima sms hanya tersenyum simpul.
“Siapa Yan?” tanya Lina, “Ana.” Jawab Yana kemudian menunjukkan sms Ana. Lina hanya membulatkan mulutnya kemudian menikmati musik yang dibawakan oleh band keren di atas panggung.
Doain sukses ya. Balas Yana. Wish u d’best. Balas Ana kemudian.
Saat-saat yang ditunggu Yana tiba, dengan hati berdebar-debar Yana mendekati Radit. Sementara Lina hanya memperhatikan dari jarak jauh tak kalah deg-degan juga.
            Beberapa hari kemudian, Ana, Yana dan Lina berbincang-bincang di tempat biasa mereka berkumpul. Hari itu Ana sudah kembali masuk sekolah.
“Eh, critain donk. Gimana waktu kamu nembak kak Radit.” Rengek Ana pada Yana.
Yana dan Lina berpandangan dan tersenyum penuh misteri.
“Ye….. koq malah senyam-senyum sich. Ayo donk crita.” Pinta Ana lagi sambil mengguncang-guncang bahu Yana.
“Iya, iya……..sabar…….” sahut Yana. Dia mengambil napas panjang dan menghembuskannya, sementara Ana tak sabar mendengar cerita dari temannya itu.
“Aku gak jadi nembak kak Radit.” Ujar Yana.
“Apa? Gak salah dengar aku?kamu gak jadi nembak kak Radit?lho, koq bisa?” Tanya Ana tidak percaya sekaligus heran. Yana tersenyum melihat kebingungan temannya itu.
“Iya, kamu gak salah dengar. Aku gak jadi nembak kak Radit. Aku hanya menyampaikan doaku padanya biar lulus ujian, itu aja.” Ucap Yana, “Bukannya itu keinginan kamu kan An?” Yana balik bertanya. Ana terdiam. “Tapi……..” ujarnya.
“Gak apa-apa An, ini juga sudah jadi keputusanku koq. Aku udah mikir matang-matang. Benar katamu, mungkin aku gak cinta sama kak Radit, mungkin aku cuma kena Sindrome Fans Senior yang suatu saat akan hilang seiring bejalannya waktu. Toh perjalananku di dunia ini masih panjang, banyak hal yang harus kupikirkan selain masalah cinta.” Yana bercerita panjang lebar. Ana dan Lina menyimak dengan seksama. “Aku percaya kalau suatu saat cinta sejati aku akan datang padaku. Saat ini aku Cuma mau fokus sama sekolah dan meraih cita-citaku.” Lanjut Yana mengakhiri ceritanya. Ana langsung memeluk temannya dengan penuh haru.
“Semoga apa yang kamu harapkan terkabul.” Doa Ana dengan tulus. “Amin.” Sahut Yana  dan Lina bersamaan, Lina pun turut memeluk dua temannya. Mereka berpelukan erat penuh haru dan kasih sayang. Ana senang karena Yana tidak jadi sakit hati. Walaupun Ana tau kalau dalam hati Yana masih terukir nama Radit didalamnya. Di dalam hati Ana juga berdoa semoga Yana kelak mendapat pengganti yang lebih baik dari Radit.
“Lha, terus syal-nya gimana?” tanya Ana setelah melepas pelukan.  Yana mengisyaratkan sesuatu kepadaLina yang kemudian mengeluarkan sebuah syal rajutan berwarna hitam putih bertuliskan huruf  LAY di ujungnya. Ana mengernyitkan dahi tak mengerti.
“Ini punyaku, dan ini punyamu.” Lina memberikan satu lagi syal yang sama dengan miliknya. Ana menerima syal tersebut dengan heran kemudian memandang ke arah Yana.
“Dan ini punyaku.” Yana mengeluarkan syal yang sama dengan milik Lina dan Ana.
“Aku tidak jadi memberikan syal itu, makanya aku pakai sendiri aja. Aku juga sengaja gak ngasih tau kalian kalau aku juga merajut syal untuk kalian berdua.” Tukas Yana.
“Anggap saja kenang-kenangan dariku. Sebentar lagi kan kita pisah kelas, tapi meskipun pisah kelas kita tetap temenan ya. Makanya kutulis inisial nama kita. L untuk Lina, A untuk Ana dan Y untuk Yana.” Lanjut Yana. Ana dan Lina mengangguk. Kemudian mereka bertiga berpelukan penuh haru sampai akhirnya bel masuk berbunyi. Yana tidak menyesal memberikan syal itu pada kedua temannya, karena mereka berdua adalah orang yang Yana sayangi lebih dari sayangnya pada Radit.



NB : nama tokoh dan cerita hanya fiktif

Minggu, 31 Juli 2011

Marhaban Ya Ramadhan

Alhamdulillah...ketemu lagi dengan bulan ramdhan yang penuh berkah.

Nah, hari ini "Meggengan", biasanya orang-orang pergi berziarah dan menyiapkan apem.
tau apem kan? jajanan tradisional dari tepung beras ini bakal menumpuk di rumahku. para tetangga biasanya "ater-ater" kue itu disamping nasi dan opor ayam.
kalau sudah menumpuk di rumah, pastinya aku dan adik-adikku bakal repot mondar-mandir bagi-bagi lagi tu apem ke tetangga. tapi gak apa-apa, coz sudah biasa dari tahun ke tahun.
Nah, nanti ba'da Isya' sudah mulai tarawih, setelah itu tadarus, besok.....sahur perdana.....
So,........
SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA. Semoga Berkah sampai hari kemenangan tiba.